Sebuah Kepercayaan
Layaknya sebuah organisasi pada umumnya, memiliki pimpinan dan anggota. Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Dalam keseharian, antar unsur organisasi tersebut haruslah saling mempercayai satu sama lain, sehingga bangunan yang dibangun bersama tersebut bisa menjadi lebih kokoh. Jika sudah tidak ada kepercayaan yang diberikan, bisa berbuat apa?
Suatu ketika saya pernah menjadi ketua sebuah kelompok perjalanan. Di tengah perjalanan, banyak kesalahan yang saya lakukan, sehingga kelompok perjalanan ini dianggap dalam keadaan bahaya. Pastilah kemudian banyak keraguan yang muncul. Puncaknya, seorang peserta perjalanan, mengungkapkan isi hatinya, “Maaf, kami tak bisa mempercayai Anda.”
Saya seharusnya bersyukur, bahwa rekan-rekan saya tersebut berarti memiliki perhatian yang sangat besar terhadap organisasi bersama ini. Kelompok perjalanan ini memang harus dipimpin, diisi oleh orang yang benar-benar bisa dipercaya. Kepercayaan yang lahir karena bukti dan kerja nyata yang dilakukan. Jika benar didukung, jika salah maka katakan salah.
Saya tak bisa memohon pada rekan-rekan saya untuk terus-terusan “Percayalah pada saya.”
Seharusnya saya memilih mundur ketika saya memang sudah tidak layak untuk bisa dipercaya. Masih ada banyak yang lebih baik, sehingga pantas untuk dipercaya.
Tak bisa kita mempercayai (apalagi menaati) seseorang secara membabi buta, apalagi hanya melihat dari tampilan luar yang itu pun kita hanya melihat kadang kala saja.
Pada kesasar di sini mencari:
- Setyawan87
