Pursuit of Happyness (Film)
Walaupun judulnya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Inggris yang benar (karena kata ‘happyness’ harusnya adalah ‘happiness’), namun saya memberi 4 jempol untuk film ini. Film ini sangat bagus. Sekali lagi SANGAT BAGUS. Sangat bagus untuk dijadikan motivator kehidupan. Perjuangan dalam pencarian sebuah kebahagiaan. Cocok ditonton untuk berbagai kalangan, umur, dan gender, utamanya yang sedang dalam keadaan bersusah payah, dan butuh motivasi untuk menjalani kehidupan. Apalagi ini berdasarkan kisah nyata. Inspirasi kehidupan.
Film ini mengkisahkan perjuangan Chris Gardner dalam mencari dan akhirnya mendapatkan ‘sedikit’ kebahagiaannya. Perjuangan yang perlu ia lampaui sebelum akhirnya kini ia menjadi seorang milyuner.
Chris Gardner pada tahun 1980an adalah seorang salesman alat kedokteran (scanner kepadatan tulang, seperti X-Ray), yang setiap hari harus mengetuk pintu dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Chris Gardner sedapat mungkin harus bisa menjual alat tersebut beberapa buah setiap bulannya untuk menghidupi keluarganya (istri dan putranya).
Alat yang ia jual ternyata tidak sebegitu laku, karena memang alat tersebut pada masa itu dianggap sebagai ‘kemewahan yang tidak perlu’, karena harganya yang sangat mahal, dan para dokter beranggapan belum memerlukan alat seperti itu.
Cobaan terus datang bergulir. Terkena tilang parkir menjadi hal yang biasa bagi Chris. Sampai-sampai mobilnya harus diambil kepolisian. Chris harus membayar dengan sehari bermalam di dalam penjara. Apartemen tempat keluarga Chris pun terus-menerus menagih Chris uang sewa, yang sudah terlambat lebih dari tiga bulan. Keadaan finansial yang serba kekurangan ini, membuat sang istri merasa tidak bahagia, dan akhirnya pergi meninggalkan Chris. Yang lain? melarikan diri dari membayar taksi (karena tidak mempunyai uang), alatnya dicuri, ketinggalan bis, menjadi hal yang biasa dialami oleh Chris.

Cahaya mulai muncul ketika Chris mencoba melamar pekerjaan menjadi pialang saham. Namun Chris sebenarnya tidak begitu optimis, karena latar belakang pendidikannya yang hanya sampai tingkat SMA. Tapi ia masih punya kelebihan dalam hal menjalin komunikasi dengan orang lain dan cerdas (ini terlihat ketika Chris berhasil menyelesaikan sebuah permainan puzzle (menyusun kotak agar setiap sisi warnanya sama).
Sampailah Chris pada tahap kerja magang. Chris bersama peserta seleksi lainnya, harus kerja magang selama kurang lebih 6 bulan, dan… tanpa digaji. Satu-satunya sumber uang tetaplah dari penjualan alat kedokteran itu tadi. Setiap hari, Chris harus bekerja di kantor, berkeliling kota menjual alat kedokterannya, dan merawat putranya.
Situasi menjadi bertambah berat ketika Chris dan putranya harus kehilangan tempat tinggal, karena tidak bisa membayar tagihan apartemen. Chris dan anaknya sampai harus tidur di sebuah kamar mandi di stasiun kereta dan tempat tinggal sementara di sebuah gereja, bersama puluhan tunawisma. Sementara, kerja magangnya juga tidak begitu berhasil. Begitu terus hingga akhirnya… Chris mendapatkan ‘sedikit kebahagiaannya’…
Yah, film berdurasi hampir dua jam ini, bisa dikatakan 90%-nya adalah kisah-kisah perjuangan yang berat dan seringkali hasilnya menyedihkan. Bagian ‘kebahagiaan’ hanya 5-7 menit saja. Huaahhhhh….. jadi tidak direkomendasikan ditonton oleh orang yang mudah menangis. Hehehe… Tapi tidak apa-apa ding.
Akhirnya…

Chris Gardner kini adalah seorang milyuner. Namun sebelum film/buku “Pursuit of Happyness” keluar, mungkin hanya sedikit yang tahu, bahwa milyuner tersebut dulunya pernah tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Setiap hari harus mengantri di gereja tempat tinggal sementara. Setiap hari harus membawa benda yang beratnya 40 pon ke sana kemari… Bahkan untuk membeli sepatu baru, menggantikan sepatunya yang hilang ketika tertabrak mobil, milyuner tersebut tidak mampu.
Sungguh perjuangan yang memotivasi kita semua. Saya tidak mengatakan bahwa untuk mendapatkan ‘happiness’ haruslah kaya raya/menjadi milyuner. Namun setidaknya kita semua memiiliki tujuan hidup, cita-cita, yang sebaiknya kita perjuangkan untuk mendapatkannya. Dan perjuangan itu tentunya tidak mudah…
“Jangan biarkan seseorang mengatakan kau tak bisa melakukan sesuatu. Kau punya impian dan kau harus melindunginya.”
“Orang tak bisa melakukan sesuatu sendiri, dan mereka mau katakan bahwa kau (juga) tak bisa melakukannya.”
“Jika inginkan sesuatu, kejarlah. Selesai.”
Dan… mari berlomba saling mengejar kebahagiaan masing-masing!
Kebahagiaan dunia akhirat tentunya :)
Pada kesasar di sini mencari:
- latar belakang the pursuit of happiness
- film the pursuit of happiness
- apa yang dikatakan Chris dalam film the pursuit of happiness
- latar belakang the pursuit of happyness
- motivasi yang diambil dalam film the pursuit of happyness
- novel pursuit happiness
- Resensi fim Pursuit of Happyness
- resensi novel pursuit of happyness
- review film the pursuit of happiness
- sinopsis film pursuit happiness
- http://students.itb.ac.id/~eghadyonypoethry egadioniputri
- http://bridgeoflove.multiply.com ana anak aneh
- myazura
- noerma123
- http://praboto.wordpress.com datyo
- http://www.daunlontar.com daunlontar.com
- dicky
- bintang kecil
- http://www.listrikinverter.blogspot.com abdillah
- Anonymous
- Steven Petrus
