NAMRU-2: Virus, Intelijen, dan Terorisme
Pada tahun 2012: 90% penduduk bumi telah mati; 9% terinfeksi virus; 1% (sekitar 12 juta) kebal terhadap virus, namun terancam oleh mereka yang terinfeksi. Yang terinfeksi terpencar tidak diketahui dimana keberadaannya. Dimana-mana hanyalah pemandangan kota mati. Virus masih saja bergentayangan di udara dan masih belum ditemukan vaksin antivirusnya.
Para survival bertahan hidup hanya dengan memanfaatkan barang-barang (makanan, BBM, dsb) yang kini tidak ada pemiliknya. Tidak ada komunikasi. Tidak ada interaksi. Padahal itu sudah 3 tahun sejak virus tersebut mulai menyebar tahun 2009.
Hehehehe. Deskripsi di atas diambil dari film I Am Legend. Film monolog (atau apa ya istilahnya?) yang dibintangi Will Smith ini menceritakan masa depan bumi dan manusia yang diambang kepunahan. Semua itu akibat ulah manusia!
Saya tidak bermaksud mereview film tersebut. Namun satu yang ingin saya sampaikan tentang film tersebut: memperingatkan kita akan bahaya virus biologi. Mengerikan membayangkan apabila hal tersebut benar-benar terjadi. Virus biologi, adalah salah satu jenis senjata pemusnah massal yang paling efektif.
Indonesia: Tempat Uji Coba (Eksperimen)
Akhir-akhir ini sedang ramai pemberitaan tentang keberadaan laboratorium NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit) milik Amerika Serikat di Indonesia. Baca artikel ini:
- MER-C: NAMRU Jangan Sampai Beroperasi Lagi
- Anggota Komisi IX DPR: Kegiatan NAMRU Menyimpang dari MoU
- Depkes Larang Rumah Sakit Berikan Virus kepada NAMRU
- Depkes Tutup Sementara Laboratorium Namru-2
Ribut-ribut kompensasi sample flu burung dengan WHO belum usai (Menkes: Tangan Tuhan dibalik Flu Burung), Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari, lagi-lagi bikin ulah dengan Amerika Serikat. Namun ulah tersebut bukan sekedar cari sensasi saja. Tindakan Men Kes RI ini patut diacungi jempol sekali lagi, karena keberaniannya mengungkapkan fakta dan tindakannya yang tegas.
Kasus NAMRU-2 ini juga hampir mirip dengan kasus vaksin flu burung, dimana Ibu MenKes lagi-lagi menemukan kejanggalan akan keberadaan laboratorium penelitian Amerika di Jakarta sejak 30 tahun yang lalu ini. Kontrak kerja sama sebenarnya sudah lama berakhir, namun entah, mungkin karena kelalaian pengawasan dari pemerintah RI, sehingga kru NAMRU-2 ini masih saja ada di Indonesia. Selain itu, ternyata para awak NAMRU-2 juga memiliki kekebalan diplomatik. Semacam duta besar negara asing di sebuah negara, yang memiliki hak diplomatik ekstra (seperti bebas dari pajak, bebas dari peraturan negara, dsb) Para awak tersebut bisa melakukan apapun, membawa apapun, dari dari dan ke luar Indonesia.
Karena itulah, aktivitas yang ada di NAMRU-2 ini patut diwaspadai. Karena menurut Departemen Kesehatan RI, selama ini NAMRU-2 tidak pernah melaporkan apa yang mereka lakukan alias tidak transparan.
Menteri Kesehatan RI menengarai lagi-lagi Indonesia, dan mungkin negara-negara berkembang (negara dunia ketiga) lagi-lagi dimanfaatkan oleh negara maju (Amerika Serikat). Negara berkembang seperti Indonesia ini dijadikan seperti laboratorium ujicoba. Sampel-sampel virus, bakteri, bibit penyakit, diambil dari negara berkembang, lalu dibawa ke negara maju, diteliti, lantas dijual dengan harga yang sangat tinggi.
Kasus sampel flu burung beberapa waktu lalu, disebutkan bahkan vaksin/obat-obatnya justru diborong negara maju lainnya, sehingga negara berkembang tidak mendapatkannya. Negara maju pemborong tersebut, padahal tidak memiliki satu kasus pun Flu Burung. Negara berkembang, yang dijadikan sampel itu tadi, malah tidak mendapatkan obat/vaksinnya. Ini jelas tidak adil.
Intelijen dan Terorisme
Keberadaan serta hak-hak yang ada pada NAMRU-2 tadi, bisa jadi dimanfaatkan oleh intelijen asing (NAMRU-2 Alat Intelijen AS) untuk melakukan operasi intelijen.
Bahkan dengan keras, Presidium Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) Joserizal Jurnalis mengatakan:
“Pencurian virus ini lebih sadis dari teroris, ini the real terrorist, kita akan lakukan kampanye di masyarakat tentang ini, ” ujar Jose dalam pernyataan persnya, di Kantor Sekretariat MER-C, Jakarta, Senin(10/3).
MER-C: Pencurian Virus, Aksi Teroris yang Nyata
Arogansi Negara Maju
Sudah menjadi rahasia umum bahwa negara-negara maju mempunyai teknologi yang modern untuk merekayasa zat-zat biologi, kimia, radioaktif, dan nuklir (baca: senjata pemusnah massal).
Amerika Serikat jelas-jelas mengembangkan teknologi nuklir (ingat peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia Ke-2?). Israel memiliki teknologi nuklir, bahkan dikatakan paling besar di dunia (namun tidak pernah ngaku, padahal bukti sudah banyak). Negara-negara Eropa pun juga mengembangkan teknologi serupa.
Aneh, ketika negara seperti Korea dan Iran, mempunyai keinginan yang sama untuk mengembangkan teknologi nuklir, negara-negara maju itu tadi melarangnya, bahkan PBB pun ikut-ikutan. Seolah-olah, hak itu ditentukan oleh negara-negara maju. Kalau alasannya adalah kekhawatiran akan disalahgunakannya teknologi tersebut, itu alasan yang tidak masuk akal dan hanya karena propaganda hitam terhadap negara-negara tersebut.
Padahal siapa saja bisa menyalahgunakannya. Bahkan negara yang sok paling benar sekalipun, bisa seenaknya menggunakannya. Bahkan mungkin sekarang sedang terjadi. Yah, media sudah dikuasai mereka juga sih…
Anehdot
Sebuah kampanye yang mendiskreditkan Islam: “Islam disebarkan dengan pedang yang berdarah-darah!”
“Mereka (Amerika Serikat, Israel, dsb), menggunakan senjata biologi, kimia, dan nuklir dalam perangnya, dan ternyata… tidak berdarah-darah!”
Pada kesasar di sini mencari:
- Jason Bourne
- http://kafkapizechust.blogjurnalistikonlain.com iqbal kafka
- achaa
- http://www.thodo.co.nr Thodo

