Jeritan Keluarga Korban Dakwah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir
Sebenarnya saya sendiri cukup mengagumi sosok Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, terutama atas keistiqomahan, keberanian, ketegasan, yang dimiliki beliau hingga kini. Hari ini nampaknya jarang ada da’i yang berani terang-terangan dalam melawan kesewenang-wenangan, kedzaliman, serta kesewenang-wenangan terhadap ummat Islam. Sementara yang lain malah ada yang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan politik saja, yang cenderung suka plin-plan, lupa pada garis perjuangan Islam yang seharusnya.
Baru saja saya membaca sebuah email menarik dari sebuah milis, yang memberikan sedikit gambaran sisi lain tentang beliau.
Penangkapan ustadz Abu memang kontroversial. Bagi para pengikutnya, itu sungguh tidak bisa diterima. Mereka menuduh itu pesanan AS dan bisnisnya Densus. Sebuah alasan yang logis, dan layak sekali dipercaya. Apalagi Densus memang dibuat demi kepentingan Barat.
Namun, adakah kita bisa sedikit menaruh empati terhadap perasaan beberapa keluarga, yang anak, adik, atau anggota keluarganya menjadi amat agresif setelah rajin aktif di pengajian ustadz Abu dan kelompoknya? Anaknya itu lalu mengkafir-kafirkan orang yang tidak sepaham dengan pemahaman kelompoknya, mereka kafirkan pemerintah dan segala perangkat serta sistemnya, mereka halalkan darah dan harta seluruh orang kafir (bersalah atau tidak bersalah), membela habis para pelaku bom bunuh diri di Bali, Marriott dan lainnya, serta menganggapnya sebagai syahid dan harus ditiru.
Akibatnya, hubungan keluarga dengan anak ini pun merenggang, dan anak itupun lebih cinta dan mengikuti Ustadz Abu dan kelompoknya dibanding orang tua sendiri, atas nama jihad. Katanya, jihad itu lebih utama dibanding taat pada orang tua. Dan jihad itupun seperti pemahaman kelompoknya yang menyeramkan itu.
Bagi ayah, ibu dan kakak dari orang-orang ini, tentu bisa memahami kalau Ustadz Abu ditahan. Sebab, anak atau adiknya itu bisa berpaham agresif seperti itu tentu karena sang ustadz. Sebab, sebelum mengikuti dakwah ustadz Abu, anaknya itu tak bersikap seperti itu.
Yang menyakitkan hati keluarga-keluarga itu, ketika anak atau adiknya kemudian ditangkap karena tuduhan terlibat terorisme, Ustadz Abu di TV dengan entengnya mengatakan: “Saya tidak mengenal mereka! Mungkin mereka orang-orang yang rajin datang di pengajian saya, tapi saya tidk kenal mereka satu-persatu.” Sebuah upaya yang susah kalau tidak dikatakan sebagai MENCUCI TANGAN! Sebab, saya tahu persis, Ustadz Abu kenal dengan mereka.
Pengakuan Ustadz Haris, amir JAT Jakarta, agaknya cukup menunjukkan siapa Ustadz Abu sebenarnya!
Akhirul kalam, marilah kita berdakwah secara baik, mencontoh akhlak dan etika dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw. Bukan menjadi hakim yang menyesat- nyesatkan atau mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dengan kita.
Walhasil, Densus punya bisnis, dan Ustadz Abu serta orang-orang dan kelompok yang sealiran dengannya secara tidak sadar telah menjadi “partner kerja” Densus, tepatnya “Desk Anti Teror” (Opsus gaya baru). Kedua pihak dengan apiknya telah menjadikan Islam sebagai agama teror yang harus dihabisi.
Maaf kalau saya telah menyinggung perasaan sementara orang, terutama para pendukung fanatik Ustadz Abu. Saya sendiri dulu pengagum berat beliau dan Ustadz Abdullah Sungkar. Tapi setelah salah seorang anggota keluarga saya menjadi “KORBAN” dakwah Ustadz Abu, saya kehilangan simpati pada beliau. Apalagi beliau dengan enteng bilang tidak mengenal keluarga saya itu.
Mari kita bersikap jujur dan adil, jangan asal mendukung atau mengecam.
Mansyur Alkatiri – mansyur.alkatiri@…. (via keadilan4all@yahoogroups.com)
Semoga bisa menjadi koreksi bersama, untuk saling mengingatkan, menasehati dalam kesabaran. Mari kita renungkan kembali firman Allah berikut ini,
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas , lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Maa’idah: 54)


Recent Comments